Home > Coretan pena > ILUSI

ILUSI

Dalam kesunyian malam
Kulagukan syair merdu
Dalam kesepian
Dalam kalbu dan penuh perasaan
Tak kuhiraukan lagi
Kemelut dalam alam nyata
Meski perasaan selalu menipuku
Terlintas bayangan indah
Mengusik kedamaian
Sisa-sisa senyuman
Masih menempel dalam lamunan
Dosa masa lalu
Membuatku gelisah
Dengan kerangka batin
Kucoba hapus kisah silam
Hitam tak harus tetap hitam
Ingin kucari kelembutan
Kasih sayang yang indah
Dengan penuh keceriaan
Ah…sayang cuma dalam lamunan

ASA
Keraguan dalam sikap
Sering mengundang penyesalan
Tak ada guna kecerdasan otak
Yang tertutup awan hitam
Meskipun diriku lain
Tapi masih kelihatan wajar
Kulihat orang-orang sekeliling
Tak satupun yang tahu diriku
Jangankan manusia
Hewanpun akan tertawa
Kalau tahu asal-usulku
Latar belakangku
Sebaiknya kusimpan dulu
Sampai kutemukan sosok
Yang mampu memikul sengsara
Kehidupanku yang begitu aneh
Rasanya tak cukup
Penderitaan masa lalu
Kesengsaraan masa puber
Hingga aku harus berfikir
Bahwa kedewasaanku harus ditunda
Rasanya belum waktunya
Diriku kembali seperti dulu
Keadaan yang selalu otoriter
Memaksaku berfikir keras
Merasakan sakit, lelah, Dan bosan
Mungkin baru sekarang
Ringan bebanku
Hanya tinggal sebuah kerikil
Yang diinjak di tanah yang basah
Jiwaku yang suram
Telah berganti terang
Kini tinggallah berjuang
Tuk raih masa depan
Semoga Allah mengampuni
Dosa-dosa masa lalu
Yang pernah menutupi kalbuku
“jadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin”
pahit….sungguh pahit
sebagian hidupku hilang
diriku yang terombang-ambing keadaan
tak kuasa tuk berjalan
tak ada sudah yang kupunya
aku laksana kerangka yang hidup
tak seorangpun yang sudi menengok
diriku laksana bangkai yang harum
tiada kutemukan
seseorng yang mampu
membuat hatiku tersenyum
mungkin dunia ini terlalu sempit buatku
sehingga banyak manusia yang tidur
jiwa yang lemah, hati yang keras
tak mapu kulumpuhkan
hanya ego, marah, iri dengki
yang menggerogoti keberanianku
fuck you girl
betapa aku merasa
duniaku penuh kekhilafan
rasanya hidup aku tiada berguna
laksana seonggok sampah
matipun belum waktunya
biarlah….biarlah duniaku hancur
aku ingin dunia yang lain
yang penuh kepastian
disana ada harapan
matahari kan bersinar
menerangi hati
jiwapun hidup, dalam bimbingan Tuhan
Created by alientools PDF Generator, trial version, to remove this mark, please register this software.
dalam keterpurukan
jiwaku mengharap kasih-Mu
diriku selalu meminta belas kasihan
entah bagaimana harus kutapaki
kau berikan jalan
aneka warna-warni kenyataan, tapi
tangisku tak terdengar
meski air mata membanjiri batin
tanpa pengorbanan tanpa mata
diriku seolah buta dan tuli
atas saran orang-orang sekeliling
ach…begitu keraskah hatiku
laksana padas tertutup lumpur
batu tertutup lumut
berat sekali ku buka pintu ini
bagitu banyak kunci
tapi semuanya berkarat
gajahpun akan mengeluh
bila semut menyerangnya
dirikupun akan terluka
bila disakiti….
Kurasa hari ini agak cerah
Kicauan burung menggerakkan batinku
Tapi tak kutemukan sang pemalu
Yang telah membuat hati bergetar
Mungkin dia telah lupa
Bahwa aku pernah mengenalnya
Tak kusangka
Cintaku telah berbunga
Tapi yang kurasa…
Cuman kegelisahan
Tak mampu bersikap, lidah kaku
Akalpun tak bisa berpikir
Sulit kuambil hikmah
Sebagai pengenalan terhadap diri
Terbukti bahwa diriku belum sanggup
Mengerti akan rindu sesaat
Waktu selalu bergnti
Keadaan selalu berubah
Sejalan dengan hatiku
Kemana lagi batin ini berjalan
Keresahan ini
Menyesakkan naluri
Hasrat yang menggebu
Tertindih sang pengecut
Aku sungguh malu
Dalam keletihan
Sakit ini menghiburku
Sedang kenyataaan
Hanya kupandang sebelah mata
Angin yang berhembus
Terasa nikmat
Fikiran yang beku
Jiwa yang terpenjara
Wahai pujaan hati
Dimana kau sekarang
Apa kau telah lupa
Separuh cintamu,
Masih ada dalam hatiku
Fuck you girl
Kemudian…malam ini dengan suara gemercik air hujan disertai alunan lagu
kebangkitan, diriku mulai terkulai lemah tak bertenaga lagi. Semenjak kabut hitam itu
mengelilingi imajinasiku, angankupun semakin liar dan nakal, tak tahu lagi sebenarnya
kegelisahan-kegelisahan ini terus mengganjal perih disudut mata yang telah sekian lama
mengalir air mata kepalsuan, sekiranya buih dilautan tidak segera

Categories: Coretan pena
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: