Home > Coretan pena > Agama, Matematika, Fisika, dan Segala Keyakinan atau Pemahaman Kita: Jejak-Jejak Dogma

Agama, Matematika, Fisika, dan Segala Keyakinan atau Pemahaman Kita: Jejak-Jejak Dogma

Tuhan bersabda dengan segala kemahakuasaannya agar para umatnya menyembah dan mengikuti aturannya. Tidak ada kata enggan atau kata tidak. Tunduk atau patuh adalah inti dari ketertundukan pada kemahakuasaannya. Nabi atau Orang suci bersabda atau berkata, dan dia harus dituruti dan dijalani segala petuah atau petunjuk atau larangannya. Dan dogma-dogma muncul dari dalamnya. Landasan agama (entah itu yang memiliki aspek ketuhanan atau teologis, maupun yang tidak memiliki aspek tersebut) meletakkan dasar atau fondasi kepatuhan dan kepercayaannya pertama kali pada dogma: Tiada Tuhan Selain Allah. Yesus adalah Putra Allah. Ikuti ajaran Buddha.

Angka hadir di dunia. Matematika pun mengolahnya. Rumus-rumus, aturan-aturan, persamaan-persamaan lahir dengan bentuk keindahan dari dalamnya. Kita menghitung, kita menjumlahkan, kita mengurangkan, kita mengalikan, kita membagi, kita mengintegralkan, kita mengakarkan, kita mengurutkan, kita membuat grafik, dan sebagainya. Semua bermula dari beberapa premis dan aturan. Angka, aturan pengalian atau penjumlahan, dari mana semua itu datangnya? Dogma dan Doktrinlah. Tidak ada satu premispun atau satu aturanpun yang mampu dijelaskan secara lengkap. Premis adalah titik henti dalam dogma matematika, demikian pula aturan didalamnya, dari sanalah kemudian dikembangkan kekomplekan rumus dan kenjlimetan aturan atau angka.
Semua berawal dari Dogma.

Fisika berusaha mengukur menelisik dan meramalkan dunia. Waktu menjadi detik, menit, jam, hari dan seterusnya. Benda benda memiliki massa, timbangan-timbangan ada dimana-mana untuk mengukurnya. Ruang terukur dengan meter, centimeter, kilometer dan seterusnya. Rumus-rumus dunia disingkapkan. Dunia itu perpaduan antara besaran-besaran dasar atau pokok. Kemudian dari perpaduan besaran-besaran pokok tersebut lahir besaran turunan. Tapi apa itu waktu? Apa itu massa? Apa itu jarak? Dia hanya dapat diukur dan tak mampu didefiniskan hakikatnya. Waktu, massa, jarak adalah dogma Fisika. Ahli fisika pun terdiam jika disodori pertanyaan ini.

Kita hidup, berputar, berlari, berdiri, berfikir, merasa, melihat, mendengar, mengecap. Kita kemudian belajar, kita berkomunikasi, kita membaca, kita menulis, kita bisa membuat, kita bisa menjalin cinta, kita bisa terpanah panah amarah. Kita, manusia, bersosialisasi, mengenal orang lain yang mirip dengan diri kita, bercanda, tertawa, menangis. Kita membangun kepercayaan, kita membangun keyakinan, kita menambah pengetahuan. Semuanya berawal dari kenyataan bahwa kita ada. Dan semua ada karena indra kita. Entah itu indera rasa pikir, atau rasa jasad. Entah itu sensasi emosi atau hati, atau sensasi mata atau telinga. Indera kita adalah dogma kita. Kita terdogma oleh indera. Dari sanalah keyakinan kita akan segalanya berawal. Keyakinan pada agama, matematika, atau fisika.

Salam Takjub atas Dunia

Categories: Coretan pena
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: